News Indonesia - Harga minyak melonjak di perdagangan Asia pada Senin (16/9) pagi, mencapai level tertinggi sejak Mei pada pembukaan, di tengah kekhawatiran gangguan pasokan menyusul serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi pada Sabtu (14/9).
Diketahui, 10 drone menyerang fasilitas pemrosesan minyak milik Saudi Aramco yang merupakan perusahaan minyak terbesar di dunia milik pemerintah Arab Saudi. Akibatnya, 2 kilang tersebut terbakar, dan produksi minyak Arab Saudi terpangkas 5,7 juta barel per hari atau sekitar 50 persen dari keseluruhan produksi minyak dari negara tersebut.
Patokan internasional minyak mentah berjangka Brent terangkat 7,06 dolar AS per barel atau 11,7 persen dari penutupan New York pada Jumat (13/9/2019) menjadi diperdagangkan di 67,28 dolar AS per barel pada pukul 01.08 GMT (08.08 WIB), setelah melonjak lebih dari 19 persen ke tertinggi sesi 71,95 dolar AS per barel pada pembukaan.
Lihat Juga : Besok, Jokowi Dijadwalkan Ngobrol Bareng Robot Tercerdas di Dunia
Patokan AS, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) melompat 5,76 dolar AS per barel atau 10,5 persen menjadi diperdagangkan di 60,60 dolar AS per barel, setelah melonjak lebih dari 15 persen ke tertinggi sesi di 63,34 dolar AS per barel.
Presiden dari Rapidan Energy Group, Robert McNally, mengatakan harga minyak dunia akan naik sedikit. Namun, dampak paling terasa terjadi pada ekonomi dunia yang merosot.
"Abqaiq sejauh ini adalah fasilitas minyak terpenting dunia," ujarnya.
Pemerintah Amerika Serikat menyatakan siap untuk melepas cadangan minyaknya dalam menjaga stabilitas harga dunia.
Presiden Donald Trump juga mengatakan siap bertemu dengan Presiden Iran Hassan Rouhani membahas mengenai perjanjian nuklir. Di mana, Iran diminta untuk menghentikan program senjata balistik dan dukungannya pada kelompok pemberontak.
Diketahui, 10 drone menyerang fasilitas pemrosesan minyak milik Saudi Aramco yang merupakan perusahaan minyak terbesar di dunia milik pemerintah Arab Saudi. Akibatnya, 2 kilang tersebut terbakar, dan produksi minyak Arab Saudi terpangkas 5,7 juta barel per hari atau sekitar 50 persen dari keseluruhan produksi minyak dari negara tersebut.
Patokan internasional minyak mentah berjangka Brent terangkat 7,06 dolar AS per barel atau 11,7 persen dari penutupan New York pada Jumat (13/9/2019) menjadi diperdagangkan di 67,28 dolar AS per barel pada pukul 01.08 GMT (08.08 WIB), setelah melonjak lebih dari 19 persen ke tertinggi sesi 71,95 dolar AS per barel pada pembukaan.
Lihat Juga : Besok, Jokowi Dijadwalkan Ngobrol Bareng Robot Tercerdas di Dunia
Presiden dari Rapidan Energy Group, Robert McNally, mengatakan harga minyak dunia akan naik sedikit. Namun, dampak paling terasa terjadi pada ekonomi dunia yang merosot.
"Abqaiq sejauh ini adalah fasilitas minyak terpenting dunia," ujarnya.
Pemerintah Amerika Serikat menyatakan siap untuk melepas cadangan minyaknya dalam menjaga stabilitas harga dunia.
Presiden Donald Trump juga mengatakan siap bertemu dengan Presiden Iran Hassan Rouhani membahas mengenai perjanjian nuklir. Di mana, Iran diminta untuk menghentikan program senjata balistik dan dukungannya pada kelompok pemberontak.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar